Harga Daging Naik, Harga Sapi Tetap Rendah

Membaca dari beberapa surat kabar online, di banyak daerah terutama di pulau jawa tampaknya sedang terjadi kenaikan harga daging sapi. Sepintas memang tampak wajar, karena menjelang bulan puasa dan Idul Fitri dari tahun ke tahun pasti ada peningkatan harga beberapa bahan pangan, tak terkecuali daging sapi. Namun menjadi sangat janggal ketika kita melihat dari kaca mata peternak sapi, yang sudah berbulan-bulan mengalami tekanan karena tidak mampu menjual ternak sapinya dikarenakan harga jual sapi terlalu rendah untuk bisa menutupi biaya pemeliharaan. Ini sangat memprihatinkan karena berarti baik di sisi produsen, maupun konsumen tidak ada yang diuntungkan.

Penyebab dari kondisi ini masih belum diketahui, seperti yang diakui oleh Wakil Menteri Pertanian Bayu Kresna Murthti menanggapi melonjaknya harga daging sapi yang mencapai sekitar Rp 60.000 per kilogram. “Kita cermati kenaikan harga (daging), tapi harga sapi turun,” jelasnya di Gedung Menko Perekonomian, Jakarta, Senin (26/7). Ia mengatakan, kondisi seperti ini jarang terjadi. Pada kondisi normal harga daging sapi akan berbanding lurus dengan harga sapi. “We dont know, still try to find it,” ucapnya. Bayu memperkirakan, naiknya daging sapi tersebut disebabkan karena ketidakcocokan antara pasokan dari daerah ke kota. “Ada masalah miss match komunikasi dengan pemda,” ucapnya.
Secara terpisah Sekretaris Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Gunaryo menyatakan bahwa stok daging menjelang puasa dan lebaran cukup. Menurut Gunaryo stok daging bakal bersumber dari dalam negeri ataupun dari luar negeri, “Utamanya, impor daging tersebut untuk memenuhi kebutuhan daerah Jabodetabek.” Gunaryo menyebutkan, pemenuhan daging untuk kebutuhan dalam negeri yang defisit tersebut bersumber dari impor sapi bakalan dari Australia. Setelah digemukkan, barulah sapi tersebut dipotong. “Impor banyak dalam bentuk bakalan sehingga bisa digemukkan dahulu di dalam negeri,” kata Gunaryo.

Sedangkan menurut kalangan pedagang, kenaikan harga tersebut dipicu minimnya pasokan daging yang datang dari peternakan ke pasar. Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia DPD Jawa Barat Dadang Suganda berpendapat bahwa peningkatan harga daging sapi itu disebabkan oleh berkurangnya pasokan sapi dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Dengan harga daging sapi yang kini mencapai Rp 58.000 per kg, bukan tidak mungkin harga tersebut akan naik lagi. Sementara itu, daging sapi yang diusung dari luar negeri alias impor juga tersendat lantaran adanya kebijakan pengurangan impor sapi oleh Kementerian Pertanian. “Maksudnya pengurangan impor itu bagus untuk peternak lokal, tetapi harga akan naik jika impor dikurangi,” papar Dadang.

Perusahaan penyedia daging sapi lokal dan impor punya penilaian lain lagi, mereka menyatakan telah menambah pasokan sekitar 10%-15% dari stok normal untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang Ramadan dan Hari Raya Lebaran. Direktur Usaha PD Dharma Jaya, Basuki Ranto, mengatakan pihaknya dan perusahaan penyedia daging sapi lokal dan impor yang lain menjamin adanya pasokan daging lebih dari 30.000 ton untuk memenuhi kebutuhan pasar Jakarta. “Pasokan yang cukup itu diharapkan dapat mengendalikan harga daging sapi yang cenderung meningkat akibat faktor psikologi, dipicu kenaikan harga dan tarif sejumlah barang dan jasa,” katanya kemarin. PD Dharma Jaya juga berusaha mengendalikan harga agar tetap rasional dengan kenaikan maksimal Rp2.000-Rp4.000 per kg antara lain daging sapi lokal Rp 50.000 menjadi Rp 52.000 per kg dan daging impor beku dari Rp 45.500 menjadi Rp 45,500 per kg. Basuki mengatakan kini PD Dharma Jaya memiliki persediaan sapi siap potong sebanyak 1.000 ekor, yang akan ditambah sekitar 1.500-2.000 ekor lagi menjelang puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Selain stok sapi hidup siap potong tersebut, perusahaan daerah milik Pemprov DKI tersebut juga menyiapkan pasokan sedikitnya 600 ton daging sapi beku untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pasar.

Tentunya diperlukan kearifan pemerintah untuk menelaaf mana data yang fakta dan mana yang bukan. Yang pasti sejumlah pedagang bakso di Semarang sudah merasakan rumitnya mempertahankan harga baksonya dengan adanya kenaikan harga daging ini, hal yang sama juga dialami penjual daging di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan kota-kota lainnya yang harus kehilangan omzet hariannya. Para konsumen pun dirugikan dengan adanya kenaikan ini. Belum lagi peternak sapi yang hanya bisa garuk-garuk kepala melihat tingginya harga daging yang tidak sejalan dengan tingginya harga jual sapi potong.

sumber : ANTARA News, KOMPAS.com, INILAH.COM

About Peternakan Taurus

Peternakan Sapi & Kambing yang berlokasi di Cibitung, Bekasi, kami mulai beternak sapi potong pada akhir tahun 2009 dengan sapi jenis Brahman Cross asal Australia. Pada tahun 2011 kami mulai memelihara sapi perah jenis Holstein lokal untuk diambil susunya. Saat ini kami memiliki produk berupa sapi potong untuk kurban & idul fitri serta susu sapi segar.
This entry was posted in Info Peternakan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Harga Daging Naik, Harga Sapi Tetap Rendah

  1. Halo, kita saling tukar link untuk meningkatkan kepuasan konsumen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s